Artikel

Untuk Dia Seseorang Yang Tak Pernah Peka

Pagi itu datanglah anak baru ke kelasnya Windy, di situlah semua permasalahan dimulai. “Hei, nama aku Rivi Andy senang berkenalan dengan kalian” ucapnya dengan sepenggal kata yang penuh makna bagi gadis-gadis ABG yang ada di kelas itu. “Baik nak silahkan duduk” ucap Bu Nana.

Rivi pun duduk di kursi yang kosong, saat jam pelajaran dimulai siswa-siswi menjadi tidak konsen karena kehadiran Rivi. Pantas saja karena Rivi memiliki wajah yang sangat tampan, tinggi dan didukung kulitnya yang putih. “Sepertinya dia anak orang kaya” gumam Windy di dalam hati. 30 menit kemudian bel pun sudah menunjukkan suaranya, itu tandanya saatnya beristirahat. Windy pun tak sabar ingin menceritakan Rivi kepada sahabatnya Ika. Ia pun langsung berlari ke arah kelasnya Ika, belum lagi sampai di kelas ia sudah melihat Ika.

“Kaaa!!” jerit Windy sambil melambaikan tangan. “Windyyyy…” teriaknya juga dan menghampiri Windy.
“Ka, aku mau curhat nih” senyumnya kepada Ika. “Iya sama Win, aku juga” Balasnya tersenyum.
“Ya udah kamu aja deh yang duluan Ka”
“Gak ah, kamu aja yang luan Wind” tawarnya balik. “Gak usah kamu aja ya Ka”
“Ya udah, Win tadi waktu aku jalan ke kantin, aku nabrak cowok gantengnya dunia akhirat Win” ucapnya lebay.
“Apa jangan-jangan?” ucapnya di dalam hati.

“Win kok bengong?” tanyanya.
“Gak apa-apa kok Ka, siapa namanya Ka?”
“Kalau gak salah namanya, Rivi Andy Win” tersenyum kegirangan. “Tuh kan gak salah lagi”
“Gak salah lagi apa Win?” Tanyanya.
“Emm.. emm.. gak kok aku ke sana dulu ya daaa.” jawabnya terbata-bata dan pergi meninggalkan Ika.

Saat Windy tergesa-gesa berlari. “Bruuuug!” Windy terjatuh, tetapi ada seorang pria yang menawarkan telapak tangannya kepada Windy. Windy pun menghampiri tangan tersebut. “Rivi..” ucapnya dengan ekspresi terkejut, Rivi pun pergi meninggalkan Windy. Windy pun berlari ke arah toilet tempat tujuannya tadi. “Ya Allah, ada apa ini, apa yang akan terjadi jika aku mendekati Rivi? Ini perasaan yang gak pernah aku rasakan Ya Allah, padahal ini bukan pertama kalinya aku jatuh cinta, tapi ini berbeda sahabatku juga suka sama dia. Kenapa yang ini rumit banget?!” teriaknya. Ketika merasa sudah agak tenang Windy pun ke luar dari toilet, ia pun masuk ke kelas saat sedang belajar. Ia mencoba menoleh ke arah Rivi, ternyata Rivi mengedipkan mata kepadanya. Ia begitu terkejut dan tak percaya melihat kejadian tadi.

“Ya Allah tolong hamba..” jeritnya yang membuat teman-tamannya terpelongo.
“Windy apa yang sedang kamu lakukan, sekarang coba kamu kerjkan soal ini” ucap Bu Ani.
Windy hanya tertunduk saat ia ingin berjalan ke arah papan tulis, tiba-tiba kakinya menjadi kaku dan susah untuk digerakkan, tiba-tiba.. “Bruuuug!”
“Bu, Windy pingsan!” teriak temannya, guru dan temannya pun menjadi panik.
“Angkat-angkat bawa ke UKS!” teriak gurunya. “Udah Bu biar saya aja” ucap Riko teman sebangkunya.

Riko pun membawa Windy ke UKS dan sampainya mereka di UKS.
“Eh jelek, bangun udah gak ada orang” ucap Riko. Windy pun mengintip dan membuka matanya. “Terima kasih ya Ko” tersipu malu. “Eh Win, lo kenapa sih anak baru itu belum sehari di sini, belum lagi seminggu, bisa-bisa persahabatan lo sama dia bisa hancur” ucapnya marah.
“Apaan sih Ko?” Riko pun meninggalkan Windy.

3 hari kemudian ia memberanikan diri untuk mendekati Rivi, sifatnya kepada Riko dan Ika pun menjadi berubah drastis. Sampai pada akhirnya Windy mengetahui kalau Rivi sudah punya pacar, dan hanya memanfaatkan Windy, hatinya menjadi sakit dan hancur. Kini tumbuhlah rasa sesal di diri Windy, saat ia ingin meminta maaf kepada Riko dan Ika mereka kompak menjauhi Windy. Riko pun menjadi kaku dan kerjaannya hanya menggambar dan membuat puisi. Sampai pada suatu hari, saat Windy datang ke rumah Ika, ia ditolak sama ika. Ika hanya memberikan sebuah kotak berwarna merah, dan menyuruh Windy untuk meminta maaf kepada Riko.

“Memangnya Riko mau ke mana Ka?” tanyanya. “Riko hari ini mau ikut orangtuanya ke Amrik, jadi cepat sekarang kejar dia ke bandara sebelum semuanya terlambat”
“Jadi kenapa tadi di sekolah kau gak bilang Ka?”
“Aku tahunya waktu pulang sekolah tadi, ya udah ayo sana kejar Riko”
“Ya udah, doain aku ya Ka,” Windy pun pergi meninggalkan rumah Ika menuju bandara. Sampainya ia di bandara, ia melihat Riko memasuki pesawat.
“Rikooo!!!” teriak Windy tapi sayangnya ia terhalang oleh security saat Riko menoleh. Dan pesawat Riko pun terbang landas.

Windy pun merasa sedih karena telah ditinggal sahabat baiknya, “Aku jadi penasaran apa sih isi kotak ini?” Windy pun membukanya dan betapa terkejutnya ia saat melihat gambar wajahnya yang digambar oleh Riko, ia pun menemukan sepucuk surat yang isinya: “Dear God.. Hari ini dia (Windy) belum sadar juga tentang perasaanku ini, entah apa maunya dan entah apa inginnya. Padahal harapanku sebelum aku pergi dia menyadari kalau aku yang pantas untuknya, Tapi ya sudahlah semuanya sudah terlambat, ini aku pun sudah berada jauh darinya. Sekarang aku hanya berharap jagalah dia saat aku berada jauh dari dirinya, Amiin.” Windy pun terkejut dan menangis, “Seandainya aku bisa lebih peka, pasti semuanya tidak akan seperti ini.” sesalnya.

“3 tahun sudah Ka, Riko pergi ninggalin kita, aku udah putusin buat lihat dia besok” curhat Windy.
“Haa yang bener Win?” tanyanya.
“Iya”
“Ya udah aku titip salam ya”
“Oke”

Keesokkan harinya Windy pun pergi ke Amrik untuk menemui Riko. Saat ia berjumpa dengan Riko ia begitu senang dan tersenyum bahagia, ia pun mencoba untuk menghampiri Riko. Tapi sayang ada sesosok wanita yang menghampiri Riko dan menggenggam tangannya. Windy pun hanya membalasnya dengan senyuman dan berbalik arah meninggalkan Riko. “Windy maafkan aku. Apa sekarang kau sudah sadar bahwa aku mencintaimu? yang sekarang bersamaku adalah adikku bukan kekasihku.” gumam Riko melihat Windy dari kejauhan.

Cerpen Karangan: Risma Rani
Blog: Kharismaposting.blogspot.com
Facebook: Risma Rani