Artikel

Penantian Cinta Yang Indah

Manusia itu tiada yang tidak pernah melakukan kesalahan dan kehilafan. Karena manusia itu memiliki nafsu yang kadang menjerumuskannya. Halwa. Itulah nama seorang gadis berjilbab. Ia mengenakan jilbab sejak ia SMP. Ia juga rajin salat. Namun ia juga pacaran dengan banyak lelaki karena ia belum menemukan seseorang yang cocok untuknya. Namun saat masuk SMA, ia tertarik dengan seorang kakak senior laki-laki. Dan ia melihat nama yang tertera di bajunya yaitu Hasanuddin. Ia juga lelaki yang taat ibadah. Sampai suatu hari mereka pun berpacaran dan juga tak terhindar dari maksiat. Arim merasa menyesal melakukan hal-hal yang belum pantas dilakukannya dan ia menyampaikannya kepada Hasan.

“Mas, Adek nyesal melakukan ini. Adek gak sanggup. Segera halalkan Adek Mas,” ujar Halwa.
“Maafkan Mas Dek, harusnya Mas menjaga Adek. Tunggulah 2 tahun lagi Dek. Insya Allah Mas tidak akan melakukan hal seperti itu lagi,” jawab Hasan.

Mereka pun tidak pernah melakukan hal yang macam-macam lagi meskipun mereka juga sering bertemu tapi mereka berusaha menahan nafsu mereka. Hasan pun bekerja keras untuk masa depannya. Susah payah ia hadapi oleh beratnya pekerjaan yang ia tanggung. 2 tahun kemudian Hasan menjadi seorang yang sukses. Ia sudah memiliki rumah dan harta benda lainnya. Ia pun teringat akan pujaan hatinya dan ingin melamarnya bersama semua keluarganya. Sampailah ia di depan rumah Halwa. Ia dipersilahkan masuk oleh orangtua Halwa. Halwa pun terkejut karena Hasan tiba-tiba datang.

Ayah Hasan membuka suara, “Maksud kedatangan kami ke sini karena kami ingin melamar Nak Halwa untuk Hasan. Apakah Bapak Ibu mengizinkan?”
Ayah dan ibu saling pandang dan sang Ayah berkata, “Saya terserah Halwa saja. Bagaimana hal?”
Halwa merona,ia tertunduk malu dan diam. Jantungnya dag-dig-dug. Ia pun berkata, “Aku terima Ayah.” Semua keluarga tersenyum bahagia. Dan pernikahan pun dilangsungkan secara islami dan tidak bermegah-megahan. Mereka berdua pun pindah ke rumah yang sudah disiapkan Hasan. Halwa sangat senang.

“Terimakasih Mas untuk semuanya,” ucap Halwa.
“Sama-sama sayang. Ana uhibbuki fillah.”
Mereka pun hidup bahagia.

Cerpen Karangan: Arimbi Ciie Bimbie
Facebook: Arimbi ciie Bimbie